Atonia Uteri Merupakan 'Malaikat Pencabut Nyawa' Pasca Melahirkan

Bila ditilik namanya, sungguh indah, yakni Atonia Uteri. Namun, kalau ditelusuri lebih dalam, pengertian Atonia Uteri ini sangat angker alasannya mengancam keselamatan seorang ibu pasca melahirkan. Menurut WHO hampir 99 persen penyebab utama maut ibu pasca melahirkan yakni alasannya perdarahan. Salah satu bentuk perdarahan pasca persalinan yakni Atonia Uteri.
 pengertian Atonia Uteri ini sangat angker alasannya mengancam keselamatan seorang ibu pa Atonia Uteri Merupakan 'Malaikat Pencabut Nyawa' Pasca Melahirkan
Kiri: Rahim normal pasca melahirkan.
Kanan: Atonia Uteri  
Apa itu Atonia Uteri?

Atonia Uteri yaitu suatu keadaan perdarahan hebat pasca melahirkan, dikarenakan otot-otot uterus (rahim) melemah dan tidak bisa berkontraksi dengan baik, sehingga ujung-ujung pembuluh darah daerah plasenta tertanam tidak menutup sehingga darah terus mengalir ke rongga rahim, sebagai pengaruh tidak adanya kontraksi uterus.

Bila kondisi Atonia Uteri terjadi pasca melahirkan, petugas kesehatan menyerupai Bidan dan dokter andal kebidanan akan kelabakan. Kasus Atonia Uteri ini termasuk emergency yang wajib ditolong segera. Biasanya, berakhir di kamar operasi apabila tindakan pengobatan dan tindakan manual menyerupai memijat rahim, untuk merangsang kontraksi tidak berhasil atau pasang tampon tidak sanggup mengatasi perdarahan.

Faktor Pencetus / Penyebab Atonia Uteri

Banyak faktor diduga sebagai pelopor atau penyebab terjadinya Atonia Uteri, diantaranya sebagai berikut:
  1. Melahirkan anak kembar;
  2. Melahirkan anak terlalu besar;
  3. Kelelahan;
  4. Proses persalinan lama, alasannya adanya penyulit;
  5. Lebih dari 5 kali melahirkan (grande multipara);
  6. Keadaan umum ibu yang jelek;
  7. Anemia;
  8. Ibu menderita penyakit kronis;
  9. Adanya Mioma uteri ( sanggup menganggu kontraksi);
  10. Adanya Infeksi dalam rahim;
  11. Atonia Uteri berulang (ada riwayat).

Pengobatan/ Tindakan Atonia Uteri

Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, kalau therphy dengan obat-obatan tidak berhasil, atau dengan tindakan pemijatan fundus. Bahkan, ada juga dilakukan tindakan fiksasi rahim dengan benang biar lebih padat, dengan impian perdarahan bisa berhenti dan kontraksi kembali normal. Namun, kalau segala daya dan upaya itu tidak bisa merangsang kontraksi, dan menghentikan perdarahan, maka ibu pasca melahirkan dipersiapkan untuk operasi cyto (segera). Kemudian, perdarahan massive yang telah menimbulkan hb dalam darah menurun drastis maka wajib ditambah melalui transfusi darah. Semuanya disiapkan sesegera mungkin. Kadang transfusi, berlangsung di meja bedah.

Di Kamar Operasi, dokter andal kebidanan dan tim akan melaksanakan tindakan histerektomy, yaitu uterus atau rahim sebagai sumber perdarahan dipotong kemudian diangkat. Artinya, si ibu tidak lagi mempunyai rahim. Tindakan demikian hampir 90 berhasil mengatasi perdarahan. Namun, ada juga yang gagal. Angka keberhasilan 90 persen asumsi penulis saja. Berkaca dari pengalaman, 10 tahun dinas di kamar operasi. Manakala perkara Atonia Uteri dengan hb di bawah 7, maka perdarahan sangat sukar diatasi dan biasanya si ibu tidak terselamatkan.

Dalam hitungan jam, si ibu bisa saja mengalami anemis berat, bahkan syok alasannya kekurangan cairan tubuh, meskipun telah diberi beberapa kantong darah melalui transfusi, kemudian telah dimasukan cairan infus ditangan kiri dan kanan, bahkan 3 sekaligus sampai di kaki. 

Menurut dokter Suhadi selaku dokter andal kebidanan dan kandungan di RSUD dr Adnaan WD, pernah menyampaikan pada penulis, " pada perkara Atonia Uteri, alasannya perdarahan hebat, zat beku darah (trombosit) akan mengalami gangguan, sulit membeku secara alami."

Fakta demikian pun penulis lihat secara kasat mata. Pasien Atonia Uteri yang telah diangkat rahimnya (histerektomy) masih saja mengalami perdarahan pervaginam. Padahal bekas luka sayatan telah dijahit rapat, dan pasien tidak pula mengalami kelainan darah seperti, riwayat penyakit hemofilia.

"Hemofilia yakni penyakit yang mengakibatkan badan kekurangan protein yang diharapkan dalam proses pembekuan darah bilamana terjadi perdarahan. Protein ini lazim disebut faktor pembekuan atau faktor koagulasi." ( dikutip dari alodokter).

Kesimpulan, perkara Atonia Uteri ini paling ditakuti oleh petugas kesehatan, terutama Bidan, dan dokter kebidanan. Karena kehadiran Atonia Uteri  pasca melahirkan bagaikan 'malaikat pencabut nyawa.' Proses berlangsung cepat, dan sangat gawat darurat yang bisa berakhir kematian.

Sesungguhnya, resiko terjadinya Atonia Uteri ini bisa dicegah dengan memperhatikan faktor pelopor atau penyebab yang telah dijelaskan di atas. Bila Anda mempunyai faktor pencetus, maka usahakan siaga 1, selalu kontrol kehamilan di pelayanan kesehatan. Dan, ikuti saran selama kehamilan. Demikian.(AntonWijaya)

Sumber https://medianers.blogspot.com/

Related Posts :

0 Response to "Atonia Uteri Merupakan 'Malaikat Pencabut Nyawa' Pasca Melahirkan"

Posting Komentar