"Silahkan berbaring buk" permintaan seorang Perawat anggun dengan ramah, sambil mengarahkan Ny.X untuk tidur telentang biar sanggup di periksa gejala vitalnya (vital sign).
Setelah melaksanakan vital sign Perawat anggun mendokumentasikan hasil temuannya dalam file anamnesis. Seraya menganamnesa keluhan utama pasien.
Berselang beberapa detik, dokter jaga IGD juga menghampiri pasien. " Selamat malam buk, keluhan Ibuk apa? Ungkap dokter ganteng sambil menghadiahi senyuman manis pada pasien yang sedang merintih kesakitan.
" A a anu dok, perut potongan bawah saya sakit sekitar semenjak 2 jam yang lalu, rasa nyeri menjalar ke pinggang, dan saya merasa tak berdaya." Ny.X menjelaskan tertatih-tatih pada dokter ganteng.
"Okey..apa lagi yang Ibuk rasakan" balas sang dokter, sambil menyentuh nadi pasien. "Aduhhh..perut potongan kanan bawah saya nyeri sekali dok" kata pasien, sambil mengerang kesakitan. Lalu dokter melaksanakan investigasi fisik, " maaf buk perutnya saya periksa" sambil menekan, mengetuk dan mendengarkan dengan stetoskop, dokter ganteng berusaha mencari tau penyebab atau sumber nyeri ibu tersebut.
"Apakah Ibuk merasa nyeri dikala saya tekan dan lepas perut kanan potongan bawahnya?" Nyeri tekan iya dok, tapi tidak nyeri lepas" jawab pasien. Dokter ganteng mulai curiga Ibuk itu mengalami Appendiksitis.
Tiba-tiba, " dok ! ibu ini pucat sekali, apa perlu saya siapkan untuk pengambilan sampel darahnya? " celetuk Perawat cantik. " Boleh, cek Hb-nya sekalian" ungkap dokter ganteng. Lalu, ia bertanya, "Tekanan darah Ibuk ini berapa Ners?" Cekatan, Perawat anggun menjawab, " 90/70 mmhg dok !". Dokter mengorder. "Ya udah, siapkan sekalian infusnya" pinta sang dokter.
"Kenapa ibu pucat sekali, apakah ibu tidak makan?" Tanya sang dokter. " Tidak dok, saya makan 3 jam yang lalu" jawab pasien. "Lho, apakah Ibuk ada perdarahan? Tanya dokter lagi? " betul dok, saya ibarat haid semenjak 3 hari ini, tapi darahnya banyak keluar". Ungkap pasien. " "Apakah Ibuk hamil," tanya dokter ganteng. " "Nggak tau dok. Tapi, saya udah 6 ahad ini nggak tiba haid, gres 3 hari ini keluar banyak darah," jawab pasien.
"Kita periksa urine Ibuk ya, apakah ibu hamil atau tidak" sambil jalan, sang dokter
Suaminya cemas, "suster.Suster! Gimana ini" tergesa-gesa Perawat anggun dengan temannya berusaha memasang infus.
Berselang menit, hasil pemeriksaaan laboratorium keluar, Ibuk itu ternyata positif hamil, dan ia pucat sebab hemoglobin dalam darahnya turun sebab kehilangan darah, yaitu 7 gram/dl.
Melihat fakta demikian, dokter jaga eksklusif menghubungi konsulen andal kebidanan dan kandungan. Tidak berapa lama, dokter andal kandungan yang sedang istirahat di rumahnya pun tiba ke IGD, dan meminta untuk di siapkan alat investigasi USG, untuk memastikan apakah pasien mengalami perdarahan dalam rongga perut sebab kehamilan ektopik atau tidak?
Ternyata dari hasil USG, pasien mengalami perdarahan dalam rongga perut, dokter andal kebidanan meminta biar operasi emergency di siapkan segera, untuk mengatasi kehilangan darah. Perdarahan dalam rongga perut Ny.X di biarkan dalam hitungan jam sanggup berakibat fatal, Ny.X sanggup kehabisan darah, dan jantung pun sanggup berhenti bergerak.
Kemudian dokter kebidanan , meminta biar cairan infus full, kapan perlu pasang 2, pada tangan dan kiri. Serta siapkan darah untuk transfusi.
Sementara Ny.X kelihatan lemas sekali, dan terkapar di atas brankar yang akan di dorong ke kamar operasi, tampaknya keadaan umumnya terus menurun. Dan, suaminya kelihatan panik sekali. Lalu, sambil jalan, pada situasi yang panik tersebut, Suami Ny.X diberi klarifikasi oleh dokter andal kebidanan dan kandungan tentang kondisi kekinian istrinya, serta meminta persetujuan tertulis untuk dilakukan tindakan pembedahan laparatomi.
Seakan tidak percaya, suami 'terpaksa' menanda tangani surat izin operasi, bahwa ia bersedia untuk dilakukan tindakan medis invasif pada istrinya, yang sewaktu-waktu akan sanggup mengakibatkan resiko, bahkan janjkematian atau komplikasi. Dan, pada masalah emergency, sangat jarang penanggung jawab pasien menolak untuk dilakukan tindakan. Meskipun telah berbunyi, kalau ditemukan resiko yang sanggup berujung pada janjkematian atau keganjilan maka keluarga tidak akan menuntut secara hukum.
Kira-kira demikianlah gambaran masalah Kehamilan ektopik yang tidak terdeteksi, sehingga tuba falopi pecah, dan pasien mengalami perdarahan hebat dalam rongga perut, yang sulit di ketahui tanpa alat investigasi dan kejelian dikala investigasi oleh manusia kesehatan.
Nah, bagi anda yang ingin tau ingin mengetahui secara lengkap dan terang perihal kehamilan ektopik, sanggup di baca di artikel berjudul " Kehamilan Ektopik Hamil di Luar Rahim".(AW)
Sumber https://medianers.blogspot.com/
0 Response to "Gambaran Masalah Kehamilan Ektopik"
Posting Komentar