Hari senang yang dirasakan umat muslim ini, sangat kontras terlihat di RSUD dr Adnaan WD, Yang ada hanya sedih dan sepi, padahal orang ramai. Tapi, tidak ada canda tawa, dan suasana hangat ibarat di luar sana. Ada apa gerangan?
Topit, petugas registrasi mengatakan, "setelah selesai sholat idul fitri, pasien terus berdatangan. Dari pukul 08.00 wib, sampai pukul 08.00 wib besoknya, pasien yang berobat mencapai 85 orang. Ada yang dirawat dan ada yang boleh pulang."
Topit menambahkan, "sedangkan hari ini (18/7) dari pukul 08.00 wib sampai pukul 10.00 wib, pasien yang mendaftar berobat sudah mencapai 11 orang."
Pantauan medianers, ketika berada di IGD, 3 orang Perawat sibuk melayani pasien, pasang ekg dan pasang infus. Sedangkan dokter jaga kelihatan sedang mengkonsultasikan kondisi pasien kepada konsulen ( dokter ahli) via telpon, lantaran seluruh dokter seorang andal sedang cuti lebaran, jadi mereka on call 24 jam, dan akan tiba kalau benar-benar sangat di butuhkan, contohnya ada tindakan operasi segera. Meskipun, dalam keadaan cuti, mereka masih mempunyai tanggung jawab terhadap kelancaran pelayanan di Rumah Sakit.
Saat medianers tanya " Jika ada tindakan emergency, apakah dokter konsulen mau tiba melayani pasien?" Pada 2 orang dokter jaga yang tidak ingin dituliskan namanya. Beliau menjawab, " Sesuai jadwal konsulen, sambil menunjuk daftar jaga, mereka, dokter konsulen siap tiba melayani, dan kalau benar-benar tidak sanggup hadir, maka pasien dirujuk. Sejauh ini, setiap pasien masuk IGD masih sanggup kami atasi", pungkasnya.
menyadari tidak sanggup terlalu banyak bertanya, lantaran dokter dan perawat IGD sibuk melayani pasien. Akhirnya, medianers menyusuri kebelakang, ke ruang rawat inap, yang ada dokter dan perawat, untuk menanyakan bagaimana perasaan mereka menjaga dan menolong pasien di hari lebaran, yang nota bene, sebuah hari yang di tunggu-tunggu umat muslim untuk berkumpul dan bersilaturahmi dengan keluarga besar dirumah/ di kampung.
Sebut saja dr.Mutia, ia sedang visite di ruang Dahlia, di hari lebaran H+1 , ia bertugas khusus di ruang rawat inap, sedangkan sore kemarin, pas sehabis sholat id, ia dinas sebagai dokter jaga di IGD.
bertanya, " Tidak mudik dok, kok dinas terus, kan kini lebaran?" Keluarga besar dr.Mutia berdomisili di Kota Padang. Beliau menjawab, " Tidak Uda. Saya lagi jaga" Jawabnya.
" Tidak sedih, jaga terus? " ulas medianers. " Seharusnya iya Uda, tapi dibawa enjoy aja" ungkapnya. Dan, dr.Mutia menambahkan, lebaran tahun ini ia tidak pulang kampung, tapi orang tuanya yang tiba dari Padang ke Payakumbuh lantaran ia tidak sanggup pulang.
Lain lagi dengan Perawat Destivarina dan Del, yang kebetulan kampungnya memang di
Sementara, pasien yang sedang mendapatkan therapy dari Perawat Del, juga medianers tanya, " Bagaimana perasaan anda di rawat di hari lebaran ini? " Sangat sedih bang, saya ingin cepat sembuh" jawabnya. Pasien, berinisial D ini, sudah 4 hari di Rawat di ruang Dahlia RSUD dr Adnaan WD.
Terpisah, medianers menelisik petugas laboratorium, panggil saja Anita, gadis lajang, kampungnya di Pariaman dan kos di Payakumbuh.
Kemarin dan hari ini (18/7) ia dinas pagi di Laboratorium IGD, ia bertugas menyidik segala keperluan penunjang diagnosa penyakit, ibarat darah lengkap dan kimia klinik.
Saat medianers menjambanginya, ia sedang menyidik kimia klinik pasien, sehabis selesai melaksanakan pemeriksaan, medianers bertanya, " Bagaimana perasaan anda dinas di hari lebaran?" Sambil tersenyum haru, " Aduh..Sedih sekali bang, saya kangen orang tua, udah 2 hari ini dinas pagi, di kos an juga sepi, disini, di Laboratorium juga sendirian. Pokoknya sedih bang, tapi kan ini kiprah dan tanggung jawab yang tidak sanggup ditinggalkan.
Lain lagi dongeng Ibrar, supir ambulance di RSUD dr Adnaan WD. Kemarin, ia sudah berkemas-kemas akan melaksanakan sholat id yang di selenggarakan di lingkungan RSUD dr Adnaan WD. Eh, Ternyata keinginannya batal, lantaran menerima kiprah untuk mengantarkan mayit ke rumah duka.
Ia juga terkenang insiden tahun kemudian (2014), ketika mendengarkan khutbah idul fitri, ia juga menerima panggilan untuk merujuk pasien. Akhirnya pun berangkat, ia merasa tidak tepat menunaikan ibadah sholat idul fitri ketika itu.
Ibrar menyadari, ini yakni tugas, tidak ada kata undur dan tunda, setiap ada panggilan harus siap kapan saja.
Di hari lebaran H+1 ini, ia dinas pagi dan stand by di IGD, dan selanjutnya on call , siap mendapatkan perintah dan menjalankan tanggung jawab sebagai supir ambulance, demikian juga 2 orang supir ambulance lainnya. Mereka saling bergantian, bahkan sanggup saja ketiga supir berangkat merujuk atau mengantarkan mayit dengan waktu yang bersamaan.
Mengamati kiprah dan tanggung jawab petugas kesehatan di Rumah Sakit ketika lebaran, medianers berkesimpulan kuncinya yakni pengabdian dan loyal terhadap pekerjaan, mendahulukan kepentingan publik diatas kepentingan pribadi.
Meskipun terjadi pergulatan bathin, sebagaimana yang pernah medianers posting " Egoku ingin merayakan kemenangan" akan luntur oleh rasa tenggang rasa akan rasa kemanusiaan. Pekerjaan yang dijalani tidak lagi dianggap bagaikan " beban berat singgulung batu". Melainkan sebuah loyalitas, kecintaan dan kepedulian terhadap sesama.
Akhirnya, medianers mengucapkan " Selamat Idul Fitri 2015, mohon maaf lahir dan bathin". Semoga pasien yang dirawat dan sedang menjalani proses pengobatan diberi fasilitas dan kesembuhan. Serta petugas kesehatan yang sedang "berjibaku" diberi kesabaran.Amin. (Anton Wijaya)
Sumber https://medianers.blogspot.com/
0 Response to "Kisah Murung Pasien Dan Petugas Kesehatan Dalam Suasana Lebaran Di Rumah Sakit"
Posting Komentar